Jumat, 23 Desember 2016

LINGKUNGAN DAN PENDIDIKAN BERPENGARUH PADA ATTITUDE ANAK


            Essai yang ditulis oleh Dwi Ananta Devy yang berjudul Peran Keluarga Dalam Membentuk Attitude Anak yang di muat pada Tribun Jateng, 23 Maret 2016  masih menarik untuk dibahas, meskipun kasusnya sudah berlalu lama. Dalam essai milik Dwi, Dwi menyinggung kasus yang pada saat itu sangat ramai diperbincangkan di tanah air yaitu kasus dimana salah seorang public figure melontarkan candaan yang tidak wajar sebagai salah satu contoh gagalnya educational attitude (paragraf 3),
            Saat ini sedang ramai diperbincangkan dikalangan netizen  tentang selebgram yaitu Awkarin, yang dimana dengan gaya pacarannya,cara berbicaranya, pakaiannya menjadi kontroversi. Awkarin adalah contoh lainnya dari kegagalan educational attitude . Bukan hanya attitude saja tetapi moral dan etikanya juga kurang.
            Peran keluarga memang sangat penting dalam hal apapun. Seperti yang dikatakan, keluarga adalah lembaga  pertama yang mengajarkan sesuatu hal yang baru untuk sang anak. Dalam hal ini tugas orang tua tidaklah hanya tentang attitude tapi juga moral dan etika. Seperti yang dikatakan oleh Dwi bahwa saat ini attitude sudah dalam kondisi warning.Namun tak mengelak juga jika saat ini generasi muda banyak yang mengalami demoralisasi (degrdasi moral) mereka lebih menyukai sesuatu yang berbau modernisasi.

            Membentuk attitude anak bukan lah peran keluarga saja yang dibutuhkan. Selain keluarga tentunya ada faktor-faktor lain yang mendukung proses pembentukan attitude anak. Yang pertama adalah Lingkungan. Lingkungan juga berpengaruh dalam pembentukan attitude anak. Baik itu lingkungan rumah, sekolah, kerja, sosial, politik, latar belakang agama dan lainnya. Sama pentingnya dengan peran keluarga, lingkungan juga memegang peran penting dalam pembentukan sikap.

            Jika seorang anak tumbuh di lingkungan yang kurang kondusif, dimana di dalam lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang buruk. Penjudi, preman, pencopet berada dalam satu lingkungan dengan sang anak, maka tak memungkiri jika dewasa nanti anak tersebut akan menjadi seseorang yang tidak memiliki sikap sopan santun dan kasar.

            Yang kedua adalah pendidikan. Pendidikan saat ini dibutuhkan dalam pembentukan sikap seorang anak mengingat pengaruh perkembangan zaman. Dengan adanya pendidikan sikap kita dapat terbentuk dengan baik. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.

            Pada dasarnya sikap merupakan hasil interaksi antara individu dan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis bukan suatu pembawaan yang langsung muncul pada diri anak.
Sikap dapat di bentuk melalui pendidikan, di rumah maupun di lembaga pendidikan. Untuk itu selain peran keluarga, peran lingkungan dan pendidikan juga dibutuhkan dalam membentuk attitude, moral dan etika anak.


- Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar