Essai yang ditulis oleh
Dwi Ananta Devy yang berjudul Peran Keluarga Dalam Membentuk Attitude Anak yang
di muat pada Tribun Jateng, 23 Maret 2016
masih menarik untuk dibahas, meskipun kasusnya sudah berlalu lama. Dalam
essai milik Dwi, Dwi menyinggung kasus yang pada saat itu sangat ramai
diperbincangkan di tanah air yaitu kasus dimana salah seorang public figure melontarkan candaan yang
tidak wajar sebagai salah satu contoh gagalnya educational attitude (paragraf 3),
Saat ini sedang ramai
diperbincangkan dikalangan netizen
tentang selebgram yaitu Awkarin, yang dimana dengan gaya pacarannya,cara
berbicaranya, pakaiannya menjadi kontroversi. Awkarin adalah contoh lainnya
dari kegagalan educational attitude . Bukan hanya attitude saja tetapi moral
dan etikanya juga kurang.
Peran keluarga memang
sangat penting dalam hal apapun. Seperti yang dikatakan, keluarga adalah
lembaga pertama yang mengajarkan sesuatu
hal yang baru untuk sang anak. Dalam hal ini tugas orang tua tidaklah hanya
tentang attitude tapi juga moral dan
etika. Seperti yang dikatakan oleh Dwi bahwa saat ini attitude sudah dalam kondisi warning.Namun
tak mengelak juga jika saat ini generasi muda banyak yang mengalami
demoralisasi (degrdasi moral) mereka lebih menyukai sesuatu yang berbau
modernisasi.
Membentuk attitude anak bukan lah peran keluarga saja yang dibutuhkan. Selain
keluarga tentunya ada faktor-faktor lain yang mendukung proses pembentukan
attitude anak. Yang pertama adalah Lingkungan. Lingkungan juga berpengaruh
dalam pembentukan attitude anak. Baik
itu lingkungan rumah, sekolah, kerja, sosial, politik, latar belakang agama dan
lainnya. Sama pentingnya dengan peran keluarga, lingkungan juga memegang peran
penting dalam pembentukan sikap.
Jika seorang anak tumbuh di
lingkungan yang kurang kondusif, dimana di dalam lingkungan tersebut merupakan
lingkungan yang buruk. Penjudi, preman, pencopet berada dalam satu lingkungan
dengan sang anak, maka tak memungkiri jika dewasa nanti anak tersebut akan
menjadi seseorang yang tidak memiliki sikap sopan santun dan kasar.
Yang kedua adalah pendidikan.
Pendidikan saat ini dibutuhkan dalam pembentukan sikap seorang anak mengingat pengaruh
perkembangan zaman. Dengan adanya pendidikan sikap kita dapat terbentuk dengan
baik. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara
sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan
dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
Pada dasarnya sikap
merupakan hasil interaksi antara individu dan lingkungan sehingga sikap
bersifat dinamis bukan suatu pembawaan yang langsung muncul pada diri anak.
Sikap dapat di bentuk
melalui pendidikan, di rumah maupun di lembaga pendidikan. Untuk itu selain
peran keluarga, peran lingkungan dan pendidikan juga dibutuhkan dalam membentuk
attitude, moral dan etika anak.
- Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar