Sabtu, 24 Desember 2016

Gambaran Hidup Lewat Sastra

       Rabu (19, Oktober 2016) Universitas PGRI Semarang kembali menggelar acara rutin untuk memperingati Bulan Bahasa yang diadakan setiap bulan Oktober. Berbagai rangkaian acara sudah disiapkan oleh Universitas PGRI Semarang untuk menyambut Bulan Bahasa, salah satunya acara UPGRIS BERSASTRA.

            Upgris Bersastra menghadirkan seorang Sastrawan Indonesia yaitu Triyanto Triwikromo yang telah melahirkan karya-karyanya lewat sebuah tulisah-tulisan yang mempu menggetarkan hati pembacanya dengan tangan dinginnya.

            Seperti dalam taglinenya ‘UPGRIS BERSASTRA! 3 Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus dan 1 pengarang’ Universitas Pgri turut mengundang 3 Pembaca sekaligus Kritikus yang akan membedah tiga buku karya Triyanto  Triwikromo, mereka adalah Dr. Nur Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M.Pd, dan Widyanuari Eko Putra, S.Pd. Nantinya mereka akan mengupas buku milik Triyanto yang berjudul Selir Musim Panas, Bersepeda ke Neraka dan Sesat Pikir Para Binatang.

            Sebelum ke acara inti, penonton disuguhi berbagai hiburan yang sangat menghibur, seperti Teatrikal Puisi, Pembacaan Puisi oleh  Mahasiswa Universitas PGRI Semarang dan Musikalisasi Puisi oleh Biscuittime mampu membuat suasana menjadi lebih hidup. Tidak ketinggalan Rektor dan Wakil Rektor Universitas PGRI Semarang ikut memeriahkan acara dengan membacakan sebuah puisi dengan caranya masing-masing. Pembacaan puisi dan teatrikal puisi ini dilakukan sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap karya-karya luar biasa Triyanto Triwikromo.

            Dalam ketiga buku karya Triyanto Triwikromo yang dibedah, semuanya memiliki daya tarik tersendiri bagi penikmat karya Triyanto Triwikromo. Ungkapan-ungkapan sastra khas Triyanto membuat pembaca bingung sekaligus penasaran , apa yang dimaksudkan dalam cerita ini. Barangkali dalam membaca sebuah karya milik Triyanto Triwikromo setidaknya dibutuhkan dua kali atau lebih agar paham pesan yang terkandung dalam karyanya.

            Selir musim panas adalah sebuah buku yang berisi lirik-lirik perih yang ditulis oleh Triyanto Triwikromo yang menggambarkan intrik pada masa sebelum dan sesudah Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok, di buku ini pembaca akan merasakan bagaimana keadaan dan konflik yang terjadi di Tiongkok pada masa Ratu Tzu His juga pencarian jati diri kemanusiaan. Selain itu dibahas pula buku yang berjudul ‘Sesat Pikir para binatang’ . Buku ini berisi kumpulan cerpen, yang didalamnya Triyanto mencurahkan pandangannya tentang sisi gelap manusia yang seperti binatang namun mereka tetap berusaha agar menjadi  manusia.

            Gambaran hidup lewat sastra Triyanto tuangkan Dalam bukunya yang berjudul Sesat Pikir Para Binatang, saya telah membaca salah satu cerpen yang berjudul Sesat Pikir Para Binatang yang dalamnya menceritakan tentang seseorang bernama Kalam, Kalam bekerja di kebun Binatang Halasnom. Selama Bekerja di kebun binatang kalam bertemu dengan Nuh dan mencoba mencari tahu binatang apa yang mirip dengan dirinya. Selama lima hari Kalam terus mencari dan berinteraksi dengan seluruh satwa yang ada di kebun binatang barangkali diantara semua binatang itu adalah kembarannya.

            Namun tanpa disangka, Kalam bertemu dengan binatang kembarannya di hari ke-enam dan tepat pada pukul 12.30, sama seperti yang dialami oleh Nuh ketika bertemu kembarannya. Disaat Kalam sedang berjalan-jalan tiba-tiba dari arah semak-semak muncul banyak cacing yang mengepung Kalam dan Kalam tetap melakukan interaksi dengan cacing untuk menguji apakah benar cacing adalah kembarannya.Kalam menceritakan kejadian itu kepada Nuh, Nuh mengatakan bahwa cacing itu tidak menghilang, akan tetapi cacing-cacing itu menyelusup ke kepala Kalam, mencoba untuk karib dengan seluruh bagian tubuh Kalam.

            Seperti dalam kutipan yang saya ambil dari cerpen berjudul pikiran Sesat Para Binatang, “Kau tidak perlu kaget jika nanti malam cacing-cacing itu bilang ‘Kami tidak mau menjadi manusia. Manusia itu makhluk paling konyol sedunia. Sok kuasa, sok pandai, sok buas, sok segalanya.’

            Dari kalimat itu saya bisa menangkap maksud yang dimaksudkan dari kata sesat pikir para binatang. Triyanto Triwikromo ingin membuka kesadaran kita, bahwa manusia di jaman sekarang kadang bisa menjadi seperti binatang, tidak memiliki akal disaat-saat tertentu dan menjadi buas seperti binatang. Manusia bisa bertingkah lebih kejam dari Binatang, sebut saja pembunuh, atau pemerkosa. Manusia-manusia itu terlihat seperti binatang yang tidak memiliki akal sehat dan mengandalkan nafsu untuk menjadi buas. 

            Tak dapat disangka, memang seluruh karya Triyanto Triwikromo seakan memilik magic tersendiri bagi pembacanya. Meskipun tak jarang kening kita ikut berkerut ketika membaca beberapa kalimat yang terpapar untuk sekedar mengulang serta memahami apa maksud dari kalimat itu dan lainnya. Acara Upgris bersastra ditutup setelah Bapak Triyanto Triwikromo maju keatas panggung dan mengungkapkan pendapatnya.

            Beliau juga mengatakan ‘Semarang tidaklah sekedar kota kecil, di Semarang ini sesungguhnya banyak bibit-bibit hebat yang akan tumbuh menjadi sesuatu yang berguna nantinya.’ Triyanto Triwikromo juga mengungkapkan rasa haru dan terimakasih karena beliau merasa karyanya disambut semeriah ini.


            Dalam acara bedah buku kemarin, ada beberapa ungkapan yang memotivasi saya untuk terus belajar dan mencintai sastra,salah satunya seperti yang dikatakan oleh Dekan FPBS, Ibu Asropah yang mengatakan ‘Sastra bukan hanya milik jurusan bahasa saja. Semua orang boleh menyukai sastra, boleh belajar sastra. Semua orang berhak belajar sastra.’ Kedepannya, semoga pemikiran orang-orang tentang sastra adalah milik orang ‘Bahasa’ dapat tergantikan, bahwasannya semua orang bisa menjadi sastrawan jika orang tersebut memiliki karya sastra dan mencintai sastra. Dalam sebuah karya sastra, kita juga dapat menyisipkan tentang amanat dan gambaran tentang apa yang terjadi di kehidupan kita saat kini. 

 Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )

Komentar Essai Milik Teman


         Menanggapi Essai yang ditulis oleh Lazuardi Insan berjudul “UPGRIS BERPENTAS” ,sangat menarik.  Dalam essainya, Lazuardi mengulas tentang Drama Jaka Tarub yang diperankan oleh Mahasiswa UPGRIS yang mengikuti UKM Teater Gema. Ulasan mengenai pementasan Jaka Tarub yang di tulis Lazuardi sangat singkat namun jelas, pemilihan kata yang digunakan juga bagus jadi nyaman untuk dibaca.

       Tetapi, ada beberapa hal sebenarnya menganggu menurut saya. Pada paragraph pertama, Lazuardi menulisnya tanpa ada kalimat pengantar. Lazuardi langsung memulainya dengan menceritakan tentang kondisi panggung pementasan, menurut saya akan lebih menarik jika Lazuardi memberikan seikit  kata pengantar, yang mengantar para pembaca ke arah mana pembaca akan dibawa.

       Sebagai contoh Lazuardi bisa memberi gambaran tentang, mengapa cerita rakyat sering digunakan menjadi jalan cerita dalam pementasan drama atau bagaimana eksistensi cerita rakyat di jaman modern, di jaman serba canggih , dimana cerita rakyat jarang mendapat perhatian dan antusiasme anak-anak, kemudian di lanjutkan dengan ulasan pementasan.

         Selain itu, jarak antar paragraph sangat jauh. Saya jadi teringat akan perkataan dosen saya, sebaiknya paragraph jangan terlalu panjang karena pembaca akan merasa cepat bosan dalam membaca. Selain itu saya merasa jika paragraph terlalu panjang,  tulisan jadi terlihat penuh dan berdekatan tanpa jeda.  Selanjutnya Pada bagian ‘Berawal dari Dongeng’ saya hampir tidak paham mengapa diberi tulisan hitam tebal yang bertuliskan ‘Berawal Dari Dongeng’, setelah saya baca isinya tidak ada yang menyangkut dongeng, namun lebih ke kapan pelaksanaan pementasan drama digelar. Namun dari semua kritik dan saran yang saya sampaikan semoga bias menjadi bahan koreksi dalam menulis essai kedepannya. Meskipun saya juga tidak banyak tahu tentang essai dan masih belajar dalam menulis essai.

             Tidak hanya menulis kritik dan saran dari essai milik Lazuardi, teteapi saya juga sependapat dengan Lazuardi bahwasannya pagelaran seperti ini mestinya sering diadakan, selain untuk hiburan, pementasan drama ini juga bias dijadikan sebuah bentuk perlawanan terhadap suatu hal karena sekarang banyak cara untuk protes terhadap sesuatu (paragraph 9) . Menurut saya pun begitu, pementasan drama ini bias dijadikan sebagai wadah dalam menyalurkan suara-suara mahasiswa mengenai keadaan jaman sekarang yang nantinya dapat diwujudkan dalam bentuk pementasan, Monolog misalnya. Dalam Essainya, Lazuardi juga memberikan pujian terhadap pementasan Drama tersebut.

          Pementasan drama tidak hanya sekedar  pementasan biasa. Pementasan Drama, teater, monolog, dan lain sebagainya adalah bagian dari Kesenian  Indonesia yang harus dilestarikan, dikembangkan, diperkenalkan, dan terus dipelajari perkembangannya agar tidak hilang dimakan waktu dan terus melekat menjadi suatu ciri yang dimiliki oleh Indonesia.


- Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )

Jumat, 23 Desember 2016

LINGKUNGAN DAN PENDIDIKAN BERPENGARUH PADA ATTITUDE ANAK


            Essai yang ditulis oleh Dwi Ananta Devy yang berjudul Peran Keluarga Dalam Membentuk Attitude Anak yang di muat pada Tribun Jateng, 23 Maret 2016  masih menarik untuk dibahas, meskipun kasusnya sudah berlalu lama. Dalam essai milik Dwi, Dwi menyinggung kasus yang pada saat itu sangat ramai diperbincangkan di tanah air yaitu kasus dimana salah seorang public figure melontarkan candaan yang tidak wajar sebagai salah satu contoh gagalnya educational attitude (paragraf 3),
            Saat ini sedang ramai diperbincangkan dikalangan netizen  tentang selebgram yaitu Awkarin, yang dimana dengan gaya pacarannya,cara berbicaranya, pakaiannya menjadi kontroversi. Awkarin adalah contoh lainnya dari kegagalan educational attitude . Bukan hanya attitude saja tetapi moral dan etikanya juga kurang.
            Peran keluarga memang sangat penting dalam hal apapun. Seperti yang dikatakan, keluarga adalah lembaga  pertama yang mengajarkan sesuatu hal yang baru untuk sang anak. Dalam hal ini tugas orang tua tidaklah hanya tentang attitude tapi juga moral dan etika. Seperti yang dikatakan oleh Dwi bahwa saat ini attitude sudah dalam kondisi warning.Namun tak mengelak juga jika saat ini generasi muda banyak yang mengalami demoralisasi (degrdasi moral) mereka lebih menyukai sesuatu yang berbau modernisasi.

            Membentuk attitude anak bukan lah peran keluarga saja yang dibutuhkan. Selain keluarga tentunya ada faktor-faktor lain yang mendukung proses pembentukan attitude anak. Yang pertama adalah Lingkungan. Lingkungan juga berpengaruh dalam pembentukan attitude anak. Baik itu lingkungan rumah, sekolah, kerja, sosial, politik, latar belakang agama dan lainnya. Sama pentingnya dengan peran keluarga, lingkungan juga memegang peran penting dalam pembentukan sikap.

            Jika seorang anak tumbuh di lingkungan yang kurang kondusif, dimana di dalam lingkungan tersebut merupakan lingkungan yang buruk. Penjudi, preman, pencopet berada dalam satu lingkungan dengan sang anak, maka tak memungkiri jika dewasa nanti anak tersebut akan menjadi seseorang yang tidak memiliki sikap sopan santun dan kasar.

            Yang kedua adalah pendidikan. Pendidikan saat ini dibutuhkan dalam pembentukan sikap seorang anak mengingat pengaruh perkembangan zaman. Dengan adanya pendidikan sikap kita dapat terbentuk dengan baik. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.

            Pada dasarnya sikap merupakan hasil interaksi antara individu dan lingkungan sehingga sikap bersifat dinamis bukan suatu pembawaan yang langsung muncul pada diri anak.
Sikap dapat di bentuk melalui pendidikan, di rumah maupun di lembaga pendidikan. Untuk itu selain peran keluarga, peran lingkungan dan pendidikan juga dibutuhkan dalam membentuk attitude, moral dan etika anak.


- Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )