Rabu (19, Oktober 2016) Universitas PGRI Semarang
kembali menggelar acara rutin untuk memperingati Bulan Bahasa yang diadakan
setiap bulan Oktober. Berbagai rangkaian acara sudah disiapkan oleh Universitas
PGRI Semarang untuk menyambut Bulan Bahasa, salah satunya acara UPGRIS
BERSASTRA.
Upgris
Bersastra menghadirkan seorang Sastrawan Indonesia yaitu Triyanto Triwikromo
yang telah melahirkan karya-karyanya lewat sebuah tulisah-tulisan yang mempu
menggetarkan hati pembacanya dengan tangan dinginnya.
Seperti
dalam taglinenya ‘UPGRIS BERSASTRA! 3 Buku, 3 Pembaca, 3 Kritikus dan 1
pengarang’ Universitas Pgri turut mengundang 3 Pembaca sekaligus Kritikus yang
akan membedah tiga buku karya Triyanto
Triwikromo, mereka adalah Dr. Nur Hidayat, Drs. S. Prasetyo Utomo, M.Pd,
dan Widyanuari Eko Putra, S.Pd. Nantinya mereka akan mengupas buku milik
Triyanto yang berjudul Selir Musim Panas, Bersepeda ke Neraka dan Sesat Pikir
Para Binatang.
Sebelum
ke acara inti, penonton disuguhi berbagai hiburan yang sangat menghibur,
seperti Teatrikal Puisi, Pembacaan Puisi oleh
Mahasiswa Universitas PGRI Semarang dan Musikalisasi Puisi oleh
Biscuittime mampu membuat suasana menjadi lebih hidup. Tidak ketinggalan Rektor
dan Wakil Rektor Universitas PGRI Semarang ikut memeriahkan acara dengan
membacakan sebuah puisi dengan caranya masing-masing. Pembacaan puisi dan
teatrikal puisi ini dilakukan sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap
karya-karya luar biasa Triyanto Triwikromo.
Dalam
ketiga buku karya Triyanto Triwikromo yang dibedah, semuanya memiliki daya
tarik tersendiri bagi penikmat karya Triyanto Triwikromo. Ungkapan-ungkapan
sastra khas Triyanto membuat pembaca bingung sekaligus penasaran , apa yang
dimaksudkan dalam cerita ini. Barangkali dalam membaca sebuah karya milik
Triyanto Triwikromo setidaknya dibutuhkan dua kali atau lebih agar paham pesan
yang terkandung dalam karyanya.
Selir
musim panas adalah sebuah buku yang berisi lirik-lirik perih yang ditulis oleh
Triyanto Triwikromo yang menggambarkan intrik pada masa sebelum dan sesudah
Ratu Tzu Hsi berkuasa di Tiongkok, di buku ini pembaca akan merasakan bagaimana
keadaan dan konflik yang terjadi di Tiongkok pada masa Ratu Tzu His juga
pencarian jati diri kemanusiaan. Selain itu dibahas pula buku yang berjudul
‘Sesat Pikir para binatang’ . Buku ini berisi kumpulan cerpen, yang didalamnya
Triyanto mencurahkan pandangannya tentang sisi gelap manusia yang seperti
binatang namun mereka tetap berusaha agar menjadi manusia.
Gambaran
hidup lewat sastra Triyanto tuangkan Dalam bukunya yang berjudul Sesat Pikir
Para Binatang, saya telah membaca salah satu cerpen yang berjudul Sesat Pikir
Para Binatang yang dalamnya menceritakan tentang seseorang bernama Kalam, Kalam
bekerja di kebun Binatang Halasnom. Selama Bekerja di kebun binatang kalam
bertemu dengan Nuh dan mencoba mencari tahu binatang apa yang mirip dengan
dirinya. Selama lima hari Kalam terus mencari dan berinteraksi dengan seluruh
satwa yang ada di kebun binatang barangkali diantara semua binatang itu adalah
kembarannya.
Namun
tanpa disangka, Kalam bertemu dengan binatang kembarannya di hari ke-enam dan
tepat pada pukul 12.30, sama seperti yang dialami oleh Nuh ketika bertemu
kembarannya. Disaat Kalam sedang berjalan-jalan tiba-tiba dari arah semak-semak
muncul banyak cacing yang mengepung Kalam dan Kalam tetap melakukan interaksi
dengan cacing untuk menguji apakah benar cacing adalah kembarannya.Kalam
menceritakan kejadian itu kepada Nuh, Nuh mengatakan bahwa cacing itu tidak
menghilang, akan tetapi cacing-cacing itu menyelusup ke kepala Kalam, mencoba
untuk karib dengan seluruh bagian tubuh Kalam.
Seperti
dalam kutipan yang saya ambil dari cerpen berjudul pikiran Sesat Para Binatang,
“Kau tidak perlu kaget jika nanti malam cacing-cacing itu bilang ‘Kami tidak
mau menjadi manusia. Manusia itu makhluk paling konyol sedunia. Sok kuasa, sok
pandai, sok buas, sok segalanya.’
Dari
kalimat itu saya bisa menangkap maksud yang dimaksudkan dari kata sesat pikir
para binatang. Triyanto Triwikromo ingin membuka kesadaran kita, bahwa manusia di
jaman sekarang kadang bisa menjadi seperti binatang, tidak memiliki akal
disaat-saat tertentu dan menjadi buas seperti binatang. Manusia bisa bertingkah
lebih kejam dari Binatang, sebut saja pembunuh, atau pemerkosa. Manusia-manusia
itu terlihat seperti binatang yang tidak memiliki akal sehat dan mengandalkan
nafsu untuk menjadi buas.
Tak
dapat disangka, memang seluruh karya Triyanto Triwikromo seakan memilik magic
tersendiri bagi pembacanya. Meskipun tak jarang kening kita ikut berkerut
ketika membaca beberapa kalimat yang terpapar untuk sekedar mengulang serta
memahami apa maksud dari kalimat itu dan lainnya. Acara Upgris bersastra
ditutup setelah Bapak Triyanto Triwikromo maju keatas panggung dan
mengungkapkan pendapatnya.
Beliau
juga mengatakan ‘Semarang tidaklah sekedar kota kecil, di Semarang ini
sesungguhnya banyak bibit-bibit hebat yang akan tumbuh menjadi sesuatu yang
berguna nantinya.’ Triyanto Triwikromo juga mengungkapkan rasa haru dan
terimakasih karena beliau merasa karyanya disambut semeriah ini.
Dalam
acara bedah buku kemarin, ada beberapa ungkapan yang memotivasi saya untuk
terus belajar dan mencintai sastra,salah satunya seperti yang dikatakan oleh
Dekan FPBS, Ibu Asropah yang mengatakan ‘Sastra bukan hanya milik jurusan
bahasa saja. Semua orang boleh menyukai sastra, boleh belajar sastra. Semua
orang berhak belajar sastra.’ Kedepannya, semoga pemikiran orang-orang tentang
sastra adalah milik orang ‘Bahasa’ dapat tergantikan, bahwasannya semua orang
bisa menjadi sastrawan jika orang tersebut memiliki karya sastra dan mencintai
sastra. Dalam sebuah karya sastra, kita juga dapat menyisipkan tentang amanat
dan gambaran tentang apa yang terjadi di kehidupan kita saat kini.
- Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar