Menanggapi Essai
yang ditulis oleh Lazuardi Insan berjudul “UPGRIS BERPENTAS” ,sangat menarik.
Dalam essainya, Lazuardi mengulas tentang Drama Jaka Tarub
yang diperankan oleh Mahasiswa UPGRIS yang mengikuti UKM Teater Gema. Ulasan mengenai pementasan Jaka Tarub
yang di tulis Lazuardi sangat singkat namun jelas, pemilihan kata yang digunakan juga bagus jadi nyaman untuk dibaca.
Tetapi, ada beberapa
hal sebenarnya menganggu
menurut saya. Pada paragraph
pertama, Lazuardi menulisnya tanpa ada kalimat pengantar. Lazuardi langsung memulainya dengan menceritakan tentang kondisi panggung pementasan, menurut saya
akan lebih menarik jika Lazuardi memberikan seikit kata
pengantar, yang mengantar para
pembaca ke arah mana pembaca akan dibawa.
Sebagai contoh Lazuardi bisa memberi gambaran tentang, mengapa cerita rakyat sering digunakan menjadi jalan cerita dalam pementasan drama atau bagaimana eksistensi cerita rakyat di jaman modern, di jaman serba canggih , dimana cerita
rakyat jarang mendapat perhatian dan antusiasme anak-anak, kemudian di lanjutkan dengan ulasan pementasan.
Selain itu, jarak antar paragraph sangat jauh.
Saya jadi teringat akan perkataan dosen saya, sebaiknya paragraph jangan terlalu panjang karena pembaca akan merasa cepat bosan dalam membaca. Selain itu saya merasa jika paragraph terlalu panjang,
tulisan jadi terlihat penuh dan berdekatan tanpa jeda. Selanjutnya
Pada bagian ‘Berawal dari
Dongeng’ saya hampir tidak paham mengapa diberi tulisan hitam tebal yang bertuliskan ‘Berawal Dari Dongeng’, setelah saya baca isinya tidak ada yang menyangkut dongeng,
namun lebih ke kapan
pelaksanaan pementasan drama digelar. Namun dari semua kritik dan saran yang saya sampaikan semoga bias menjadi bahan koreksi dalam menulis essai kedepannya.
Meskipun saya juga tidak banyak tahu tentang essai dan masih belajar dalam menulis essai.
Tidak hanya menulis kritik dan saran dari essai milik Lazuardi, teteapi saya juga sependapat dengan Lazuardi bahwasannya
pagelaran seperti ini mestinya sering diadakan, selain
untuk hiburan, pementasan drama ini juga bias dijadikan sebuah bentuk perlawanan terhadap suatu hal karena
sekarang banyak
cara untuk protes terhadap sesuatu (paragraph 9) . Menurut saya pun begitu, pementasan drama ini bias dijadikan sebagai wadah dalam menyalurkan suara-suara mahasiswa
mengenai keadaan jaman sekarang yang nantinya dapat diwujudkan dalam bentuk pementasan, Monolog misalnya. Dalam Essainya, Lazuardi juga memberikan pujian terhadap pementasan Drama
tersebut.
Pementasan drama tidak hanya sekedar pementasan biasa. Pementasan Drama,
teater, monolog, dan lain sebagainya adalah bagian dari Kesenian Indonesia yang harus dilestarikan, dikembangkan, diperkenalkan, dan
terus dipelajari perkembangannya
agar tidak hilang dimakan waktu dan terus melekat menjadi suatu ciri yang dimiliki oleh
Indonesia.
- - Sesha Eka Oktarina (Universitas PGRI Semarang / 3F / PBSI / 15410266 )
Tidak ada komentar:
Posting Komentar